Kupas Kriminal // Bangka Barat
Narkoba ternyata tidak hanya beredar di tempat hiburan atau lingkungan perkotaan. Di Bangka Barat, polisi menemukan fakta lain yang lebih mengkhawatirkan.Sejumlah pekerja tambang yang terjerat kasus narkotika mengaku menggunakan barang haram tersebut agar tubuh tetap kuat bekerja.Fakta itu diungkap Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, alasan “menambah tenaga” menjadi salah satu pengakuan yang paling sering ditemui saat polisi melakukan penindakan terhadap pengguna narkoba.”Rata-rata alasan yang sering kami jumpai dari para pekerja yang pernah kami lakukan penegakan hukum adalah supaya tambah tenaga. Memang rata-rata seperti itu,” kata Pradana.
Namun di balik alasan tersebut, polisi melihat persoalan yang jauh lebih besar.Bukan sekadar narkoba.Melainkan persoalan sosial, ekonomi, pengangguran hingga terbatasnya lapangan pekerjaan formal.Pradana mengatakan Bangka Belitung memiliki sejarah panjang sebagai daerah pertambangan timah.Aktivitas tambang bahkan sudah berlangsung sejak masa kolonial Belanda.
“Buktinya cukup banyak peninggalan Belanda yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan saat itu. Di Mentok ada Bangka Tin Winning dan berbagai peninggalan lainnya,” ujarnya.Menurut dia, hingga sekarang tambang masih menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
Namun di sisi lain, tidak semua lulusan sekolah maupun perguruan tinggi terserap lapangan kerja formal.Akibatnya banyak warga beralih ke sektor informal, termasuk pertambangan.”Kita melihat setiap tahun cukup banyak angka pengangguran terbuka. Baik lulusan perguruan tinggi maupun sekolah kejuruan. Mereka ini tidak semuanya tertampung dalam lapangan kerja yang mencukupi,” katanya.
Dari kondisi itulah muncul berbagai kerawanan sosial.Termasuk penyalahgunaan narkoba.Polisi menemukan sejumlah lokasi tambang ilegal juga menjadi titik rawan peredaran narkotika.Menurut Pradana, persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi kriminal semata.Ada faktor sosial yang harus dipahami.”Kalau kita mau menyelami lebih dalam, kita harus memahami situasi yang sedang dihadapi masyarakat kita,” ujarnya.
Selain persoalan di darat, Bangka Barat juga menghadapi tantangan besar dari wilayah pesisir.Sebagai daerah kepulauan, Bangka Barat memiliki garis pantai yang panjang dan banyak titik akses masuk.Kondisi itu kerap dimanfaatkan jaringan narkotika.
Pradana mengungkapkan tidak semua narkoba masuk melalui pelabuhan resmi.Sebagian justru masuk melalui jalur laut tidak resmi menggunakan perahu cepat.”Tidak semua barang narkotika itu masuk melalui pelabuhan resmi. Pernah juga ada speedboat yang menyeberang hanya untuk melakukan penjualan narkotika. Kita sudah dua kali menangkap yang seperti itu,” ungkapnya.
Menurut dia, luasnya wilayah pesisir membuat pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan aparat kepolisian.Karena itu keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting.”Instrumen pengawasan tidak bisa hanya dilakukan oleh kepolisian saja,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat pesisir, nelayan, tokoh masyarakat hingga pemerintah desa aktif memberikan informasi jika menemukan aktivitas mencurigakan.”Nah di situlah pelibatan masyarakat menjadi penting untuk memberikan informasi yang akurat kepada kami,” katanya.
Dalam pemberantasan narkoba, Polres Bangka Barat menerapkan pendekatan berbeda terhadap bandar dan pengguna.Untuk bandar dan pengedar, polisi menegaskan akan melakukan tindakan tegas.”Bagi yang bandar-bandar ini, kita lakukan strike melalui penegakan hukum,” kata Pradana.
Menurut dia, penindakan terhadap bandar bertujuan memutus mata rantai peredaran narkoba di masyarakat.Namun untuk pengguna tertentu, pendekatan yang dilakukan tidak selalu berujung penjara.Polisi juga menerapkan mekanisme asesmen terpadu untuk menentukan apakah seseorang layak menjalani rehabilitasi.”Kita juga melakukan assessment terpadu. Karena dalam aturan yang ada, penyalahguna narkotika pada level tertentu dianggap sebagai orang yang harus diobati,” jelasnya.
Karena itu, kata dia, perang melawan narkoba tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku.Harus ada langkah pemulihan bagi korban penyalahgunaan.
Kapolres Bangka Barat: Perang Terbesar Ada di Sekolah
Meski penegakan hukum terus dilakukan, Pradana meyakini perang terbesar melawan narkoba sebenarnya tidak terjadi saat polisi menangkap bandar.Menurutnya, perang sesungguhnya terjadi di ruang kelas.Di tempat anak-anak dan remaja sedang membentuk masa depan mereka.”Jangan hanya berbicara pada bidang penegakan hukum saja. Penegakan hukum itu hanya satu bagian dari langkah yang sebelumnya ada. Ada langkah represif dan ada langkah preventif,” katanya.
Karena itu Polres Bangka Barat menjalankan Program GEBER atau Gerakan Pembinaan dan Edukasi Remaja.Melalui program tersebut, polisi rutin mendatangi sekolah untuk memberikan edukasi tentang bahaya narkoba, kenakalan remaja dan berbagai ancaman sosial lainnya.”Kita sudah masuk ke sekolah-sekolah supaya mereka memahami bahaya penyalahgunaan narkotika. Tujuannya sederhana, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” ujarnya.
Pradana mengingatkan masa remaja merupakan fase paling rentan terhadap pengaruh lingkungan.Karena itu, satu keputusan yang salah bisa mengubah masa depan seseorang.”Jangan sampai karena salah pergaulan, mereka ikut dalam penyalahgunaan narkotika. Kalau itu terjadi, masa depan mereka bisa dipertaruhkan,” katanya.
Menjelang akhir wawancara, Pradana menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh upaya pemberantasan narkoba di Bangka Barat.Menurut dia, narkoba tidak bisa dilawan hanya oleh polisi.Perlu keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Mulai dari orang tua, guru, tokoh agama, pemerintah desa hingga para pemuda.”Tanggapan dan harapan kami sederhana. Kami akan terus lebih proaktif lagi dalam memerangi narkotika dan barang-barang berbahaya lainnya. Tujuannya adalah memproteksi masyarakat dari segala bentuk penyalahgunaan,” tegasnya.
Ia menegaskan strategi pemberantasan narkoba harus dilakukan dari hulu hingga hilir.Mulai dari pencegahan, edukasi, pengawasan, penegakan hukum hingga rehabilitasi.”Langkahnya harus komprehensif. Dari hulu sampai hilir. Semua harus berjalan bersama,” pungkasnya.(Kemis dan Tim)









