Di Antara Kue Tradisional Dan Azan Magrib Berburu Takjil Menyatukan Etnis Di Mentok Kota 1.000  

Kupas Kriminal // Bangka Barat

Senja turun perlahan di Kampung Tanjung. Langit berwarna jingga menyelimuti deretan lapak sederhana yang dipenuhi kue bangkit, jongkong pandan, bingka labu, dan es buah berwarna-warni. Di antara aroma santan dan gula merah yang menguap dari kukusan, terdengar tawa yang tidak mempersoalkan identitas.

Di kota pelabuhan tua bernama Mentok, Ramadhan bukan hanya ibadah umat Islam. Ia adalah bahasa perjumpaan, ruang kebersamaan, dan perayaan kerukunan yang hidup dalam kebiasaan kecil: membeli takjil, menyapa tetangga, berbagi kue.

Bazar Ramadhan Kampung Tanjung, yang didukung oleh Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Bangka Barat, kembali dipadati warga dari berbagai latar agama pada Minggu sore (22/2/2026). Perempuan Melayu berkerudung berdiri berdampingan dengan warga Tionghoa yang memilih kue untuk berbuka tetangganya. Anak-anak berlari kecil membawa plastik takjil sambil tertawa, tanpa tahu bahwa mereka sedang mewarisi tradisi toleransi.

“Setiap Ramadhan saya selalu beli takjil di sini. Sudah jadi kebiasaan keluarga,” ujar Hendrawan, warga keturunan Tionghoa Mentok. Ia membeli beberapa bungkus kue bangkit untuk dibagikan ke tetangga Muslimnya.

“Kalau Imlek mereka kirim kami makanan juga. Kami saling jaga,” tambahnya pelan.

Di lapak kecilnya, Siti Aminah menyusun kue bangkit satu per satu seperti merangkai doa. Ia tersenyum melihat pembeli yang beragam.

“Di sini semua saling kenal. Kalau Natal atau Imlek kami ikut datang. Kalau Ramadhan mereka ikut beli takjil. Tidak pernah terasa berbeda,” katanya.Kata-kata sederhana itu terdengar seperti puisi tentang Indonesia.

Mentok, ibu kota Kabupaten Bangka Barat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah lama menjadi simpul pertemuan bangsa-bangsa. Sejak abad ke-18, pelaut Melayu, pedagang Tionghoa, saudagar Arab dan orang Eropa datang melalui pelabuhan timah. Dari transaksi ekonomi lahir hubungan sosial dari dapur rumah tangga tumbuh budaya berbagi.

Di pusat kota, masjid tua berdiri berdampingan dengan klenteng-klenteng bersejarah. Salah satu yang menjadi saksi perjalanan waktu adalah Masjid Jami Mentok, yang berdiri tak jauh dari rumah ibadah komunitas Tionghoa. Di halaman masjid, anak-anak belajar mengaji. Di jalan yang sama, warga Tionghoa menyalakan lilin sembahyang. Sejarah tidak mencatat konflik besar di antara mereka yang tercatat adalah kebiasaan saling menolong.

Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat menunjukkan komposisi masyarakat Mentok yang majemuk, dengan komunitas Melayu Muslim sebagai mayoritas dan komunitas Tionghoa yang signifikan. Sementara laporan Indeks Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia menempatkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah dengan tingkat toleransi relatif tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Namun angka-angka itu menjadi nyata di Kampung Tanjung. Ia hidup dalam senyum penjual kue, dalam plastik takjil yang dibeli bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk tetangga.

Kerukunan di Mentok tidak diajarkan lewat pidato panjang. Ia lahir dari dapur.

Kue bangkit yang dipanggang dalam oven tua menyimpan teknik memasak Tionghoa. Santan, pandan dan gula merah membawa akar Melayu. Di atas loyang, sejarah bersatu tanpa pertengkaran.

Tokoh kuliner Indonesia William Wongso pernah menyebut makanan tradisional sebagai arsip budaya. Ia menyimpan jejak pertemuan manusia. Pemikiran itu terasa nyata di Mentok yaitu kue menjadi bahasa bersama.

Pedagang es buah bernama Firmansyah melihatnya setiap sore.“Yang beli macam-macam. Ada yang pakai peci, ada yang pakai kalung salib, ada yang biasa saja. Semua senyum,” katanya.

Dalam bukunya Food Tourism Around the World, Erik Wolf menulis bahwa wisata kuliner mampu memperkuat identitas sekaligus kohesi sosial. Mentok adalah contoh kecil dari teori itu. Bazar Ramadhan menjadi panggung kebudayaan yang tidak direncanakan, tetapi diwariskan.Julukan Mentok sebagai Kota 1.000 Kue bukan sekadar promosi wisata(Kemis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan