Dinkes Catat ribuan warga Tulungagung Idap Kanker

Kabareskrim.net // Tulungagung

Dinas Kesehatan Tulungagung mendeteksi ribuan warga mengidap penyakit kanker. Kanker payudara mendominasi dengan 984 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung Desi Lusiana Wardhani, mengatakan hingga Februari 2026 tercatat 1.467 warga yang positif kanker dan menjalani pengobatan di Tulungagung. Rinciannya 278 pasien kanker serviks, 984 kanker payudara, 92 kanker paru dan 113 kanker kolorektal/usus.

Bacaan Lainnya

“Jumlah ini patut menjadi perhatian kita semua karena kanker dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia,” kata Desi, Rabu (4/2/2026).

Para penyintas kanker tersebut kondisi beragam, mulai stadium rendah hingga tinggi. Untuk penanganan penyakit mematikan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan dukungan keluarga hingga penanganan yang tepat.

“Kanker itu bisa ganas dan mematikan. Namun, bisa dicegah dengan deteksi dini,” ujarnya.

Jika terdeteksi lebih dini sel kanker yang tumbuh secara abnormal dapat segera ditangani lebih mudah dengan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi.

Desi mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan berbagai program deteksi dini kanker yang disiapkan oleh pemerintah. Deteksi dini kanker serviks atau leher rahim dapat dilakukan dengan tes IVA dan pemeriksaan HPV DNA, sedangkan kanker payudara dilakukan Pemeriksaan Payudara Klinis (Sadanis).

“Pemeriksaan dapat dilakukan secara gratis saat CKG (Cek kesehatan Gratis) di 32 Puskesmas yang ada di Kabupaten Tulungagung. Selain itu dalam CKG juga dilakukan deteksi dini kanker paru dan kolorektal/usus,” jelas Desi.

Sementara itu di RSUD dr Iskak Tulungagung ribuan pasien kanker dari dalam dan luar kota menjalani rawat jalan dan rawat inap. Para pasien secara rutin mengikuti program pengobatan, termasuk kemoterapi.

Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, civitas rumah sakit secara khusus melakukan kunjungan ke ruang kemoterapi untuk memberikan semangat dan bunga kepada pasien.

“Tetap semangat dan rutin berobat ya bu,” kata Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Zuhrotul Aini.

Menurutnya pasien kanker yang dirawat di RSUD dr Iskak tidak hanya dari dalam kota, namun, juga dari berbagai daerah di sekitar Tulungagung, seperti Trenggalek, Kediri, Blitar, Ngantuk, Jombang dan yang lain.

“RSUD dr Iskak ini merupakan rujukan kanker untuk wilayah Jawa Timur bagian barat dan selatan. makanya seperti kita lihat tadi banyak pasien dari luar kota,” ujarnya.

Diakui mayoritas pasien kanker di rumah sakit daerah tersebut adalah kanker payudara karena pihaknya telah memiliki tenaga dokter yang lengkap dan fasilitas yang memadai.

“Dokter onkologi kami cukup lengkap. Khusus untuk kanker serviks penanganannya belum maksimal karena dokter kami masih sekolah sub spesialis. Ke depan kami akan mengembangkan pusat pelayanan onkologi terpadu di RSUD dr Iskak,” jelas Aini.

Dokter spesialis anak ini menambahkan secara penyakit kanker diakibatkan oleh multifaktor, mulai genetik hingga pola hidup. Untuk itu pola hidup sehat sangat dibutuhkan untuk meminimalisir munculnya penyakit kanker.

“Pola hidup mulai dari makanan yang saya sehat, menjaga stres, menjaga dari kontaminasi-kontaminasi yang tidak diperlukan, kebersihan, air bersih dan seterusnya itu semuanya memegang peranan dalam timbulnya kanker pada seseorang,” jelasnya.

Sementara itu dokter spesialis vedah onkologi RSUD dr Iskak, Feri Nugroho, mengatakan angka harapan hidup para pasien kanker masih cukup lama jika deteksi dan penanganan yang dilakukan lebih dini.

“Jadi, pasien kemoterapi itu jika stadium ini masih awal, kita masih bisa memperpanjang angka harapan hidup di atas 5 tahun. Jika, stadium sudah di B3, di B4 apalagi itu lebih sedikit dari 5 tahun,” ujar Feri.

Sayangnya para pasien kanker yang dirujuk ke rumah sakit mayoritas telah masuk pada stadium tiga dan empat, sehingga butuh penanganan dan perawatan ekstra.

“Pasien yang datang ke rumah sakit rata-rata 80% stadium tiga dan stadium empat. Yang stadium 2 kurang dari 30 persen,” ujarnya.

Edukasi masyarakat terkait pengobatan secara medis penting untuk digencarkan, sehingga tingkat kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan bisa ikut meningkat.

“Jangan lagi menakuti anak-anak disuntik. Persepsi atau mindset masyarakat terhadap medis itu harus diubah,” jelasnya.
(Sujiono)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan