Proyek Jembatan Diduga Asal Asalan Tim Media Menemukan Fakta Mengerikan Di Lapangan Pengawasan Nyaris Tak Terlihat

Kupaskriminal//Lampung Barat

Proyek pemeliharaan rutin Jalan Purawiwitan – Muara Jaya 2, Paket MR.31, bernilai Rp108.187.000 yang semestinya menjadi perbaikan infrastruktur justru berubah menjadi tontonan ironi. Tim media yang turun langsung ke lokasi menemukan kejanggalan bertubi-tubi, membuat publik bertanya: Apakah proyek ini benar-benar diawasi? Atau hanya dibiarkan berjalan tanpa arah seperti ini?

Bacaan Lainnya

beton kropos dan berlubang bukti pekerjaan di duga sembarangan

Di lokasi, tim menyaksikan kondisi yang sangat memprihatinkan. Beton yang baru saja dicor tampak hancur, berlubang, keropos, mengelupas, dan retak sebelum usia sehari. Air yang menggenang membuat adukan beton seperti bubur encer yang nyaris tidak memiliki kekuatan struktural.

Standar teknis jelas telah ditendang jauh-jauh, karena:

Pengecoran dilakukan di dalam air keruh.

Air tidak dipompa sama sekali.

Agregat dan semen terlihat terpisah.

Bekisting menggunakan kayu yang bahkan tidak layak jadi pagar kebun.

Pekerja berada dalam kubangan air saat pengecoran.

Ini bukan sekadar indikasi buruknya mutu, tetapi sinyal keras bahwa pembangunan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan publik.

Dalam penelusuran, tim media harus berhenti berulang kali sebab setiap detail pekerjaan tampak semakin janggal. Tidak ada tanda-tanda kehadiran:

Konsultan pengawas,

Mandor lapangan berpengalaman,

Alat pemadat beton (vibrator),

Penanganan air,

Atau kontrol mutu.

Yang terlihat hanya pekerja yang dipaksa bekerja dalam kondisi yang sama sekali tidak memenuhi standar keselamatan maupun kualitas konstruksi.

PERTANYAAN BESAR: DI MANA PENGAWAS?

Ketiadaan pengawasan semakin terlihat jelas ketika tim memeriksa bagian pondasi. Beton yang harusnya padat dan kuat justru tampak seperti dipoles asal jadi, penuh rongga dan bahkan ada bagian yang bisa dicongkel hanya dengan tangan.

Masyarakat pun ikut mempertanyakan:

Ini kerja proyek atau asal ditumpah semen saja? Kalau begini terus, jembatan bisa hancur dalam hitungan bulan,” kata seorang warga yang menyaksikan langsung prosesnya.

PAPAN PROYEK RAPI TAPI LAPANGAN SEPERTI TAK BERTUAN

Ironinya, papan proyek berdiri rapi menyebutkan:

Kontrak: 11 November 2025

Pelaksana: CV Zhiran Putra Manggala

Durasi: 180 hari kalender

Namun kualitas pekerjaan tidak mencerminkan proyek yang memiliki jadwal panjang dan anggaran negara. Fakta di lapangan justru membuka dugaan bahwa pekerjaan dilakukan sekadarnya agar laporan bisa “jalan”.

TIM MEDIA AKAN MEMPERLUAS INVESTIGASI

Dengan temuan mencolok seperti:

Mutu beton jauh di bawah standar,

Pengerjaan di air tanpa prosedur,

Pekerja tanpa APD dan alat teknis,

Tidak tampak konsultan pengawas,

Struktur awal sudah rusak sebelum mengering,

tim media menegaskan akan memperluas penelusuran, termasuk:

Mengecek RAB dan spesifikasi teknis,

Mengonfirmasi ke Dinas PUPR,

Mengumpulkan keterangan warga,

dan mendokumentasikan kerusakan tahap demi tahap.

PUBLIK DESAK AUDIT DAN PEMERIKSAAN

Masyarakat meminta Inspektorat, APIP, hingga APARAT PENEGAK HUKUM turun mengaudit proyek ini. Dugaan pembiaran mutu jelas tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut:

keselamatan pengguna jalan,

ketahanan jembatan,

dan penggunaan uang negara.

Tim media akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan mengabarkan dugaan-dugaan yang muncul berdasarkan temuan faktual di lapangan.(Dedi Iskandar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan